Cara Menghilangkan Kebiasaan Buruk yang udah Terbukti Secara Ilmiah

Percaya atau engga, semua orang di dunia ini pernah punya kebiasaan buruk. Pada dasarnya, ngga ada manusia yang sempurna, kan? Tapi jangan jadiin ini sebuah alasan sebagai pembenaran dari kebiasaan buruk yang lo punya, Brads.

Banyak kebiasaan buruk berdampak langsung ke diri sendiri, tanpa disadari. Dari yang paling remeh sampai yang ngga bisa diremehin, kebiasaan buruk selalu membawa efek negatif. Jarang mandi bikin lo kucel dan sering berhubungan seksual dengan banyak orang tanpa pengaman juga bisa bikin lo kena HIV/Aids, kan?

Maka dari itu, udah sebaiknya dan seharusnya kebiasaan buruk itu dihilangkan dari peradaban. Apalagi, ada kebiasaan buruk yang dampaknya udah bukan ke diri sendiri, tapi juga ke orang lain. Kebiasaan mabuk bisa jadi bahaya buat orang lain ketika berkendara di jalan raya dan kebiasaan minjem duit yang terus menerus ke banyak orang, dengan mejual iba tapi tujuannya riya, ngga sedikit juga jumlahnya.

Belum punya atau belum sadar

Sebagian dari kita mungkin merasa ngga punya kebiasaan buruk. Sebagian lagi bisa jadi udah punya kebiasaan buruk, tapi ngga sadar. Lebih parah yang mana? Ngga ada pembenaran mana yang lebih parah, yang pasti sama-sama ngga ada yang bisa buat lo berkembang lebih baik.

Kalau memang belum tau, coba identifikasi dulu. Langkah pertama ini mungkin keliatan ringan, tapi esensial. Setelah tau pun, selain kaget betapa sulitnya untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu, bisa jadi lo juga akan terkejut efeknya yang secara ngga sadar udah lo tanggung selama kebiasaan buruk itu udah menjangkit.

4 Cara yang Terbukti Secara Ilmiah Menghilangkan Kebiasaan Buruk

Setelah tau dan sadar apa aja kebiasaan buruk yang sekiranya lo punya, sekarang saatnya menghilangkan. Melansir TIME, ada 4 strategi buat menghilangkan kebiasaan buruk yang udah terbukti secara ilmiah. Patut lo coba, Brads!

1. Turunkan Tingkat Stres

Russell Poldrack, profesor psikologi Universitas Stanford, menjelaskan, “Anda lebih cenderung melakukan hal yang tidak ingin Anda lakukan saat Anda stres.”

Jadi, cikal bakal kebiasaan buruk biasanya berasal dari kondisi stres yang tinggi. Solusinya? Cobalah untuk tidur lebih banyak, berolahraga secara teratur, dan tempuh cara lain untuk mengurangi stres, seperti meditasi atau mendengarkan lagu favorit. Lakukan apa pun untuk meningkatkan kesehatan otak secara keseluruhan.

2. Kenali Pemicunya

Menurut Elliot Berkman, direktur Lab Ilmu Saraf Sosial dan Afektif Universitas Oregon, kebiasaan memiliki tiga bagian utama: pemicu, rutinitas, dan hadiah.

Pemicu adalah konteks ketika seseorang cenderung terlibat dalam perilaku tersebut. Misalnya, kalau lo seorang perokok, pemicunya mungkin jam istirahat kuliah atau saat nongkrong di luar. Kalau lo suka masturbasi alias coli, hampir pasti bokep adalah pemicu utamanya.

“Kemungkinan besar Anda akan kambuh dalam konteks saat Anda pernah melakukannya sebelumnya,” kata Berkman.

Kenali pemicunya dan segera hindari atau siasati, Brads. Pemicunya dapat diatasi, niscaya hidup menjadi lebih berarti~

3. Ganti Kebiasaan Buruk dengan Kebiasaan Baik

Sebuah studi tahun 2008 di Appetite, menemukan bahwa mereka yang mencoba tidak memikirkan tentang makan coklat menunjukkan efek yang sebaliknya, hasilnya adalah mereka mengonsumsi lebih banyak coklat secara signifikan daripada mereka yang tidak. 

Satu lagi, sebuah studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam Psychological Science menemukan bahwa perokok yang mencoba berhenti memikirkan tentang merokok akhirnya lebih memikirkannya.

Jadi, daripada repot menghilangkan kebiasaan buruk dengan ngga memikirkannya, coba ganti dengan kebiasaan baik. Makan coklat bisa digantikan dengan makanan lain yang serupa atau mirip tapi mengandung banyak serat dan ganti rokok dengan mengunyah permen karet atau lainnya yang lebih baik untuk tubuh.

4. Punya Alasan yang Lebih Baik untuk Berhenti

Ngga bisa dipungkiri, kenikmatan yang didapat saat masih melakukan kebiasaan buruk jauh lebih tinggi dibandingkan saat melakukan kebiasaan baik. Misalnya, otak kita tau bahwa permen karet bukanlah nikotin dan ngga akan menghasilkan perasaan euforia yang sama seperti merokok. Di sinilah, motivasi dari alasan personal berperan penting. 

Pada dasarnya, kita tau berhenti merokok baik untuk kesehatan dan berhenti masturbasi membantu kita lebih bisa berkonsentrasi dan lebih produktif. Namun, punya alasan personal jadi motivasi yang jauh lebih kuat. Misalnya, berhenti merokok supaya bisa menabung untuk beli motor impian atau berhenti masturbasi supaya bisa lebih bisa fokus belajar supaya lolos ujian masuk PTN.

Kesimpulan

Mau bagaimana pun juga, cara menghilangkan kebiasaan buruk di atas ngga bakal berhasil kalau ngga diterapin secara konsisten apalagi ngga dicoba sama sekali. Keputusan ada di tangan lo, Brads. Good luck!

Referensi 

https://time.com/5373528/break-bad-habit-science/

Leave a Reply

Your email address will not be published.